Selamat Datang

Jangan kita letih melakukan kebaikan kerana letih akan hilang sedang kabaikan dicatat berterusan, Ingat, jangan kita seronok melakukan dosa dan maksiat kerana seronok akan hilang, sedang dosa dicatat berterusan. Saidina Ali Karramallahu wajhu

Selasa, 4 September 2012

Al-Mizan


Beriman Terhadap Adanya Al-Mizan [Timbangan Amal] Pada Hari Kiamat

Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:
والإيمان بالميزان يوم القيامة يوزن فيه الخير والشر له كفتان وله لسان
Dan beriman dengan Al Mizan (timbangan amal) di hari Kiamat. Akan ditimbang seluruh amalan kebaikan dan kejelekan. Timbangan tersebut memiliki dua neraca dan satu lisan.
Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi
Adapun dua neraca tersebut, satu neraca untuk amalan kebaikan dan satu neraca untuk kejelekan. Sedangkan yang dimaksud dengan satu lisan yaitu sejenis jarum yang digunakan untuk mengetahui ke arah mana timbangan tersebut lebih condong.

Al Mizan adalah haq (benar adanya) digunakan untuk menimbang amalan seorang hamba sebagaimana firman Allah Tabaroka wata’ala,
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”(Al A’raaf: 8-9)
Kenapa dikatakan bagi seorang banyak timbangan (padahal yang ditimbang satu)? Sebab amalan-amalan dialah yang ditimbang. Shalatnya ditimbang, apakah shalat tersebut ditegakkan semuanya atau tidak? Ataukah di dalam pelaksanaannya terdapat kekurangan. Demikian pula zakat, puasa, dan seluruh amalan yang lain. Allah Ta’ala berfirman,
TerjemahanText Qur’an
Hari Kiamat,الْقَارِعَةُ
apakah hari Kiamat itu?مَا الْقَارِعَةُ
Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran,يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ
(Yaitu) api yang sangat panas.نَارٌ حَامِيَةٌ
(Al Qaari’ah: 1-11)
Apakah amalan itu memiliki jasad sehingga ditimbang ataukah lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat catatan amalan kebaikan dan kejelekan itu yang ditimbang? Hadits Bithaqah menunjukkan bahwasanya lembaran-lembaran yang berisi catatan amalan itulah yang ditimbang, sebagimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Akan dipanggil salah seorang laki-laki dari umat ini pada hari kiamat di hadapan khalayak ramai, kemudian dibukakan baginya sembilan puluh sembilan lembaran catatan amal, yang mana setiap lembaran panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya, “apakah kamu mengingkari sedikitpun apa yang ada padanya?”
Laki-laki tadi menjawab, “tidak, yaa Rabbi!”
Lalu Allah bertanya, “apakah para pencatatku yang senantiasa mengawasi mendzalimimu?”
Dia menjawab, “Tidak…”. Kemudian Allah mengatakan, “Apakah kamu memiliki alasan? Apakah kamu memmiliki kebaikan?”
Orang tadi merasa malu dan mengatakan, “Tidak.”
Allah berkata, “Bahkan kamu memiliki kebaikan di sisi kami, dan tidak ada kedzaliman untukmu pada hari ini.”
Kemudian dikeluarkan untuknya sebuah bithaqah yang tertulis padanya kalimat,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”
Laki-laki tadi bertanya, “Yaa Rabbi, apa artinya bithaqah ini dibandingkan dengan lembaran-lembaran ini…?!!
Allah menjawab, “Sesungguhnya kamu tidak akan didzalimi.”
Lalu lembaran-lembaran catatan amal tersebut diletakkan pada neraca dan bithaqah pada neraca satunya, maka terangkatlah (yakni) lebih ringan) neraca yang berisi lembaran-lembaran tersebut dan turunlah (lebih berat) neraca yang berisi bithaqah.
Berkata Muhammad bin Yahya, “Bithaqah adalah kertas, penduduk Mesir menamakan kertas dengan bithaqah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 8095 pada Juz 2/1345)
Hadits ini menunjukkan bahwa lembaran-lembatan yang berisi catatan amalan itulah yang ditimbang. Diperselisihkan juga tentang seseorang, apakah seseorang itu juga ditimbang ataukah tidak? yang benar adalah mereka akan ditimbang. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya bahwa nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah keluar pada suatu hari menuju suatu lembah. Maka Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu memanjat pohon memetik siwak yang masih basah, angin bertiup menerpa sehingga pakaian Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu tersingkap, maka para shahabat Radhiallahu’anhum melihat kecilnya betis Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu sehingga mereka tertawa. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada mereka,
“Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab, “Ya Nabiyullah, dikarenakan kecilnya betis dia.” Maka berkatalah beliau Shallallahu’alaihi wasallam, “Demi dzat yang jiawaku berada di tangan-Nya, sungguh keduanya lebih berat dalam Al Mizan daripada gunung uhud.” (HR. Ahmad)
Datang pula dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh akan didatangkan pada hari kiamat seorang laki-laki yang gemuk, penuh dengan lemak akan tetapi tidaklah seberat satu sayap nyamuk dalam timbangan di sisi Allah”. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata: bacalah oleh kalian,
فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Sehingga Kami tidak menimbang (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Al Kahfi:105) (Muttafaqun alaih)
Dengan demikian kedua dalil ini menunjukkan bahwa jasad-jasad seseorang itu akan ditimbang pada hari kiamat sebagaimana amalan itu ditimbang. Wabillahit taufiq.
[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 131-136]

Tiada ulasan: